Bandung — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berdampak hingga sejumlah wilayah Jawa Barat. Sebaran abu vulkanik mengganggu aktivitas penerbangan dan mendorong sejumlah pemerintah daerah mengambil langkah antisipasi terhadap aktivitas pendidikan.
Salah satu dampak paling nyata terjadi di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. Abu vulkanik terdeteksi di kawasan bandara sehingga operasional penerbangan sempat dihentikan sementara.
Data Kementerian Perhubungan menunjukkan sejumlah bandara terdampak aktivitas erupsi Anak Krakatau. Pada pembaruan sebelumnya, Bandara Husein Sastranegara termasuk bandara yang harus menghentikan operasional penerbangan akibat hasil pemantauan abu vulkanik.
Di Bandara Husein Sastranegara, sedikitnya delapan penerbangan terdampak pada Minggu (6/9), terdiri dari empat penerbangan kedatangan dan empat keberangkatan. Sekitar 1.344 penumpang ikut terdampak akibat penutupan sementara tersebut.
ABU VULKANIK MENYEBAR
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sebelumnya memantau sebaran abu vulkanik yang bergerak hingga wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena abu vulkanik dapat mengganggu keselamatan penerbangan. Karena itu, operasional sejumlah bandara dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan.
Pada Senin pagi, sejumlah bandara masih berada dalam status penghentian operasional sementara berdasarkan perkembangan sebaran abu dan evaluasi keselamatan penerbangan. Penumpang diminta memeriksa status penerbangan masing-masing sebelum menuju bandara.
SEKOLAH TURUT TERDAMPAK
Dampak erupsi tidak hanya dirasakan sektor transportasi udara.
Sebaran abu vulkanik juga membuat sejumlah daerah di Jawa Barat mengambil langkah perlindungan terhadap peserta didik. Sekolah di wilayah yang terdampak abu dapat menerapkan pembelajaran secara daring sebagai langkah antisipasi paparan abu vulkanik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak erupsi Anak Krakatau mulai merambah berbagai sektor kehidupan masyarakat, mulai dari transportasi, pendidikan hingga aktivitas sehari-hari.
STATUS ANAK KRAKATAU MASIH SIAGA
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam tercatat mulai Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB dan berakhir Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.
Namun, setelah episode tersebut berakhir, PVMBG masih mencatat adanya erupsi susulan bertipe Strombolian pada Minggu dini hari.
Karena itu, berakhirnya episode erupsi menerus bukan berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau sepenuhnya berhenti. Pemantauan tetap dilakukan secara intensif untuk melihat perkembangan aktivitas vulkanik berikutnya.
MASYARAKAT DIMINTA TIDAK PANIK
BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang tetapi meningkatkan kewaspadaan.
Masyarakat maupun wisatawan dilarang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Pemerintah juga mengingatkan agar masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama kabar mengenai potensi tsunami yang dapat memicu kepanikan.
BNPB menyebut hasil evaluasi PVMBG menunjukkan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 2018 masih relatif kecil dan saat ini tidak dinilai berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Meski demikian, pemantauan terhadap aktivitas dan perubahan morfologi gunung tetap dilakukan secara berkala.
KESELAMATAN JADI PRIORITAS
Erupsi Anak Krakatau kembali mengingatkan bahwa aktivitas gunung api dapat memberikan dampak jauh dari pusat erupsi.
Gangguan penerbangan dan aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah menjadi bukti bahwa sebaran abu vulkanik dapat memengaruhi kehidupan masyarakat dalam waktu relatif cepat.
Masyarakat Jawa Barat, khususnya wilayah yang berpotensi terdampak abu, diimbau mengikuti informasi resmi dari PVMBG, BNPB, BMKG dan pemerintah daerah.
Penulis: Adnan Siregar
